Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang sangat mendukung berkembangnya sektor pertanian, khususnya tanaman hortikultura. Kelompok tanaman ini terdiri dari buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Semangun, 2004). Tanaman hortikultura yang dibudidayakan sepanjang tahun di Indonesia di antaranya merupakan anggota Famili Cucurbitaceae (labu-labuan) seperti melon (Cucumis melo L.), semangka (Citrullus lanatus L.), mentimun (Cucumis sativus L.), labu (Cucurbita moschata L.), gambas (Luffa acutangula L.) dan pare (Momordica charantia L.) (Daryono et al., 2005a). Keberhasilan budidaya tanaman labu-labuan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang harus diperhatikan agar tidak menyebabkan penurunan hasil panen nantinya. Selain kondisi lahan pertanian dan cuaca, faktor lain yang berpengaruh adalah adanya ancaman patogen (Meliala, 2009). Salah satu jenis patogen yang merupakan faktor pembatas terpenting, karena dapat menyebabkan penurunan hasil panen sampai 100% adalah virus (Ali et al., 2004). Penyebaran virus tersebut salah satunya dapat terjadi melalui biji tanaman terinfeksi yang diperdagangkan dari suatu negara ke negara yang lain (Zitikaite, 2002).     
 Menurut Provvidenti (1996) dalam Ali et al. (2004), sekitar 35 jenis virus yang berbeda telah berhasil diisolasi dari tanaman labu-labuan. Beberapa diantaranya adalah Zucchini yellow mosaic virus (ZYMV), Watermelon mosaic virus (WMV), Papaya ringspot virus (PRSV), Cucumber green mottle mosaic virus (CGMMV), Cucumber mosaic virus (CMV), Squash mosaic virus (SqMV), Melon necrotic spot virus (MNSV) (Ali et al., 2004) dan Kyuri green mottle mosaic virus (KGMMV) (Ko et al., 2007). Namun, dari sekian jenis virus tersebut, CGMMV dan KGMMV merupakan penyebab penyakit tanaman yang cukup serius dan mampu menimbulkan kerugian sektor pertanian di beberapa negara (Daryono et al., 2005a). CGMMV pertama kali ditemukan pada tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) di Inggris oleh Ainsworth (1935). Selanjutnya, virus ini terdistribusi luas di wilayah Eurasia, meliputi Yunani, Spanyol, Israel, Iran, Arab Saudi, India, Pakistan, Jepang dan Korea Selatan (Brunt et al., 1996). Sedangkan KGMMV pertama kali ditemukan di Jepang pada tanaman mentimun dan dilaporkan juga telah menginfeksi tanaman pertanian di Korea Selatan (Daryono et al., 2006). Di Indonesia sendiri telah dilakukan isolasi KGMMV dari tanaman melon di Klaten, Jawa Tengah (Daryono et al., 2005a) dan gambas di Sleman, DIY (Daryono et al., 2006). Akan tetapi, sampai saat ini belum ada publikasi resmi yang menyatakan bahwa CGMMV telah menginfeksi tanaman labu-labuan di Indonesia. 
Skripsi saya, yang kebetulan masih dibimbing oleh Bapak Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc., mengambil tema tentang keberadaan virus terhadap pertanian di Indonesia, khususnya CGMMV terhadap tanaman Cucurbitaceae di wilayah DIY. Tujuan penelitian ini antara lain: (1) Untuk mengetahui keberadaan CGMMV di Indonesia, khususnya DIY melalui survei dan koleksi sampel; (2) Untuk mengisolasi CGMMV dari tanaman labu-labuan yang terinfeksi; dan (3) Untuk mendeteksi CGMMV dengan menggunakan teknik RT-PCR. Berikut adalah penelitian pendahuluan untuk skripsi saya, yaitu survei dan koleksi sampel daun tanaman Cucurbitaceae dari beberapa lahan pertanian di wilayah Sleman dan Kulon Progo, DIY. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam bentuk poster pada International Conference on Biological Science, yang diadakan oleh Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada tanggal 16-17 Oktober 2009, dengan mengangkat tema "Advances in Biological Science: Respect to Biodiversity from Molecular to Ecosystem for Better Human Prosperity." Poster ini juga meraih juara 3 untuk "Poster Terbaik." Semoga bermanfaat. :)